Pementasan Wayang Kulit Adam Ghifari Undang Penasaran

Mask & Puppets Festival 2013

RETNO HY/"PRLM"
PUTERA Haji Rhoma Irama, Adam Ghifari saat tampil sebagai dalang wayang kulit di Gunungan International Mask & Puppets Festival 2013, Bale Pare Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kab. Bandung Barat, Minggu (16/6)*
PADALARANG,(PRLM).- Sejumlah petugas masih menata Plaza Bale Pare yang akan menjadi tempat pementasan Adam Ghifari, dalang cilik yang kini beranjak remaja. Namun sejumlah pengunjung Gunungan International Mask & Puppets Festival 2013, sudah mengambil posisi untuk menyaksikan dalang kelahiran Solo 13 September 1999 dengan segudang prestasi di dunia pedalangan dan pewayangan.
Begitu waktu menunjukan pukul 14.30 WIB diiringi nayaga dan juru suara, Adam Ghifari keluar dari sisi kanan plaza.Bukan hanya semua mata tertuju pada iring-iringan rombongan tetapi sejumlah fotografer dan kameramen langsung kamera ke arah rombongan keluar.
“Saya merasa penasaran dengan Adam (Ghifari) yang katanya anak (haji) Rhoma Irama dari Gita Andini Saputri. Kenapa yang lainnya menjadi pemain musik, tapi Adam menjadi dalang dan seniman tradisi,” ujar Hesti, pengunjung asal Kota Cimahi, yang mengetahui kalau Adam Ghifari anak Haji Rhoma Irama dari event guide Gunungan International Mask & Puppets Festival 2013 yang diberikan pihak panitia penyelenggara.
Bukan hanya Hesti seorang yang merasa penasaran ingin melihat langsung terhadap kemampuan Adam Ghifari saat mendalang.Tapi tidak sedikit pula yang berucap merasa penasaran ingin melihat raut wajah Adam dan menyandingkannya dengan wajah Ridho Rhoma.
Banyaknya penonton yang menyaksikan aksinya memainkan wayang dan teriknya udara siang menjelang sore tidak membuat Adam Ghifari gugup.Bahkan yang terjadi Adam Ghifari menunjukan kelasnya sebagai dalang yang sudah menorehkan prestasi ditingkat daerah hingga nasional.
Adam membawakan cerita tentang kemarahan Dewi Sri akibat banyak petani yang meninggalkan sawahnya karena pergi ke kota untuk mencari nafkah. Tapi karena tidak memiliki pengalaman akhirnya petani kembali pulang ke kampung.
Namun karena lahan peswahan sudah berubah menjadi pabrik. Hal tersebut membuat Dewi Sri marah, murka, sangat sedih serta kecewa, bimbang, dan bingung berlari mengelilingi tanah sawah pertanian. (A-87/A-26)***

supported by: :Melinda HospitalBale Pareinstitut francais indonesiaPikiran Rakyattatali news corporationPikiran Rakyat FMHayu Hejopapirusking entertainment

"One of the best festival in the world"